LEWOLEBA – Di bawah naungan
langit Rabu, 29 April 2026, SMP Negeri 4 Nubatukan berselimut suasana yang tak
biasa. Ada getir yang merayap di sela tawa, dan ada rindu yang mulai tumbuh
sebelum perpisahan benar-benar purna. Hari itu, sebuah ritual pelepasan digelar
dengan tajuk yang menyentuh sanubari: "Mengukir Kenangan,
Mewariskan Keteladanan."
Sebanyak 106 tunas muda kelas IX bersiap menerjang badai di
samudera pendidikan yang lebih luas. Namun, panggung perpisahan kali ini terasa
lebih sunyi sekaligus agung, karena sekolah juga melepas tujuh patriot pendidikan yang berpindah tugas (mutasi),
serta dua sosok penjaga nyala api ilmu yang memasuki masa purna bakti: Bapak Simon Emi, S.Pd. dan Ibu Dra. Nonna Maria Sina
Boleng, sang mantan nakhoda yang telah lama menakhodai lembaga ini
dengan hati.
Untaian Pesan di Ambang Gerbang
Dalam riuh rendah acara, Marselinus Lawe, S.Pd., mewakili Ketua Komite, berdiri membawa pesan layaknya seorang ayah. Suaranya tenang namun menghujam, mengingatkan para siswa bahwa hari ini bukanlah garis finis.
"Tetaplah nyalakan api semangat dalam belajarmu. Apa yang
kalian genggam hari ini hanyalah sebuah permulaan, sepercik cahaya sebelum
kalian menjemput matahari," ungkapnya penuh harap.
Suasana kian syahdu saat perwakilan orang tua murid berdiri.
Dengan nada suara yang bergetar, mereka melarung ucapan terima kasih atas tangan dingin para guru yang telah menempa budi pekerti anak-anak mereka. Sebuah permohonan maaf pun terucap tulus, membasuh segala khilaf dan tingkah laku anak-anak yang mungkin sempat menggores luka selama masa belajar.
Petuah Sang Nakhoda: Antara Integritas dan Kedewasaan
Plh. Kepala SMPN 4 Nubatukan, Stefanus Ola Begu, S.Fil., tampil menyampaikan wejangan pamungkas. Kepada 106 siswanya, ia menitipkan pesan agar mereka tetap mampu menguasai diri. Menanti pengumuman kelulusan bukanlah dengan pesta pora yang fana, melainkan dengan sujud syukur dan ketenangan jiwa.
Bagi tujuh rekan sejawatnya yang mutasi, ia menitipkan sebuah jimat berharga: Integritas dan Profesionalitas. Ia berharap, di tanah baru nanti, dedikasi mereka tetap sewangi mawar. Sementara untuk Bapak Simon dan Ibu Maria, Stefanus memberikan penghormatan tertinggi atas pengabdian yang tuntas dan tanpa celah hingga garis akhir masa tugas. Puncak haru pecah saat Stefanus membacakan bait-bait puisi sebagai kado perpisahan. Kata-kata yang dirangkainya seolah menjadi jembatan antara masa lalu yang manis dan masa depan yang penuh teka-teki. Dalam sambuatan terakhirnya, secara simbolis, ia melepaskan kartu tanda peserta didik, menandakan bahwa tugas sekolah dalam membimbing mereka telah usai secara formal, namun ikatan batin tetap abadi.
Sajak Perpisahan dari Sang Begawan dan Rekan Sejawat
Suasana
semakin merasuk kalbu saat Bapak
Simon Emi, S.Pd. berdiri mewakili guru purna bakti. Dengan nada penuh
syukur, beliau melangitkan terima kasih kepada SMPN 4 Nubatukan yang telah
menjadi "pelabuhan terakhir" dalam pelayaran panjangnya sebagai
pendidik.
"Terima
kasih kepada lembaga ini yang telah menjadi rumah bernaung di pengujung tugas
saya. Dan untuk 106 anak-anakku, terima kasih telah menemani perjalanan tiga
tahun terakhir ini. Kita tiba di dermaga yang sama untuk berpisah, namun
kenangan kalian akan tetap bersemi di hati saya," ucapnya lirih namun
penuh wibawa.
Tak
ketinggalan, Ibu Wilda yang
mewakili tujuh guru mutasi, menyampaikan baris-baris kalimat penuh makna.
Beliau memandang SMPN 4 Nubatukan bukan sekadar tempat bekerja, melainkan kawah
candradimuka.
"Terima kasih telah menjadi wadah bagi kami untuk bertumbuh. Di sini, kami belajar menjadi guru yang lebih profesional. Setiap sudut sekolah ini adalah ruang kelas bagi kami untuk menempa diri sebelum melangkah ke tempat tugas yang baru," tuturnya.
Isak Kerinduan dari Adik Kelas
Keharuan
semakin memuncak saat Rahayu
Lamabelawa melangkah maju mewakili suara hati adik-adik kelas 7 dan 8.
Dengan untaian kalimat yang puitis, ia menggambarkan betapa beratnya sebuah
kehilangan.
"Sejujurnya, kami tak rela melepaskan kakak-kakak semua. Namun, kami jauh lebih tidak sanggup jika harus membiarkan kalian tetap mendekam di dalam 'sangkar' yang sempit ini, sementara jiwa dan cita-cita kalian begitu luas melampaui cakrawala. Terbanglah tinggi, kepakkan sayapmu," ucap Rahayu dengan suara yang menggetarkan sanubari hadirin.
Suara Hati dari Balik Seragam Putih Biru
Mewakili 106 rekannya, Anggun Betekeneng tampil ke depan dengan kata-kata yang lahir dari ketulusan terdalam. Ia menyampaikan penghormatan terakhirnya sebagai siswa di sekolah tercinta ini.
"Terima kasih telah menjadi pelita bagi kami. Terima kasih karena telah mendidik kami dengan kesabaran yang begitu lapang, seluas samudera, demi masa depan yang tengah kami tuju. Kami sadar, dalam perjalanan ini ada luka atau kecewa yang mungkin kami torehkan; untuk itu, dari lubuk hati yang terdalam, kami memohon maaf atas segala khilaf selama kami mengenyam ilmu di sini," ucap Anggun penuh haru.
Acara pun meluruh dalam kegembiraan yang hangat. Panggung hiburan menjadi saksi bagaimana siswa, guru, dan orang tua menyatu dalam tarian dan nyanyian.
Sebuah perpisahan yang tidak menyisakan duka, melainkan sebuah janji untuk terus bersinar di tempat yang berbeda, membawa warisan keteladanan yang telah terukir abadi di SMPN 4 Nubatukan.

0 Komentar