Lamahora – Mengisi waktu luang usai Ujian Akhir Semester (UAS) tidak melulu harus dengan bersantai tanpa arah. Satuan Pendidikan SMP Negeri 4 Nubatukan punya cara kreatif dan sarat makna. Sejak Selasa (9/6/2026), sekolah ini menggelar serangkaian kegiatan mulai dari aksi jalan santai sambil memungut sampah plastik di jalanan, pelestarian budaya, hingga turnamen olahraga antarkelas yang dikemas apik untuk menanamkan rasa cinta tanah air.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WITA
dengan aksi jalan santai. Mengambil rute dari sekolah menuju Kantor Bupati
Lembata dan kembali lagi ke sekolah. Bukan sekadar gerak badan biasa, sepanjang jalan, para peserta didik tampak antusias
memungut sampah plastik yang berserakan di jalanan. Aksi ini menjadi edukasi
nyata untuk membiasakan siswa menjaga kebersihan lingkungan dan kebugaran
tubuh.
Hidupkan Tradisi Lamaholot di
Sekolah
Usai keringat bercucuran dari jalan santai, suasana
sekolah mendadak riuh dan kental akan nuansa daerah. Para siswa langsung terlibat dalam kegiatan "Titi Jagung", sebuah tradisi lokal yang sengaja
diangkat sebagai wujud dukungan nyata sekolah terhadap Pemerintah Kabupaten
Lembata dalam melestarikan warisan budaya Lamaholot.
Tak berhenti di situ, keseruan berlanjut ke lapangan sekolah melalui agenda Class Meeting cabang olahraga bola voli. Pertandingan antarkelas ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengasah keterampilan fisik, sekaligus memupuk semangat persaudaraan dan persatuan antarwarga sekolah.
Tiga bentuk kegiatan yang dilaksanakan hari ini tidak semata-mata hanya untuk mengisi waktu kosong setelah ujian. Lebih dari itu, kami berharap ini bisa membawa dampak jangka panjang sebagai sebuah pembiasaan positif bagi karakter siswa," ujar Pembina Kesiswaan SMP Negeri 4 Nubatukan, Fransiskus Y.B. Kein, S.Pd.
Makna Sederhana Mencintai Tanah
Air
Kaka Je, begitu ia biasa
disapa, juga menekankan bahwa
nasionalisme dan cinta tanah air tidak melulu soal seremonial formal. Ada
nilai-nilai budaya dan sosial yang jauh lebih membumi untuk diterapkan oleh
generasi muda.
"Untuk menunjukkan rasa cinta terhadap tanah air, tidak cukup hanya dengan kegiatan apel bendera, mengumandangkan lagu kebangsaan, atau menghiasi gedung-gedung dengan warna merah putih, sesederhana itu, ungkapnya.
Lebih jauh, Ia menambahkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan siswa hari ini memiliki filosofi mendalam tentang nasionalisme dalam tindakan nyata. Lewat jalan santai sambil memungut sampah, siswa belajar mencintai bumi. Melalui Titi Jagung, mereka belajar mencintai lewo tanah (tanah air/kampung halaman). Semangat itu mencapai puncaknya di Class Meeting, dimana mereka diajarkan sportivitas dan persatuan.
Antusiasme yang terpancar dari wajah para peserta
didik sepanjang hari itu menjadi bukti bahwa pelajaran berharga tidak selalu
lahir dari dalam ruang kelas, melainkan dari tradisi dan kebersamaan yang terus
dirawat.

0 Komentar