Ketika Ruang Kelas Menjadi Ruang Perjumpaan

 


Ketika Ruang Kelas Menjadi Ruang Perjumpaan


IPARI Lembata Merawat Moderasi Beragama dari Sekolah

Pagi itu, ruang-ruang kelas di SMP Negeri 4 Nubatukan tidak hanya menjadi tempat siswa belajar tentang pelajaran sekolah. Ada sesuatu yang berbeda. Para remaja berjumpa dengan orang-orang yang datang membawa pesan tentang keberagaman, toleransi, dan bagaimana menjadi manusia yang mampu hidup berdampingan dengan orang lain.

Yang menarik, pesan itu tidak datang dari satu suara agama.Para penyuluh agama Katolik, Islam, dan Protestan hadir bersama. Mereka masuk ke ruang-ruang kelas, berbicara dengan para siswa, berdialog, dan membicarakan satu hal yang sebenarnya sederhana, tetapi sangat penting: bagaimana perbedaan dapat dirawat menjadi kekuatan.



Perjumpaan tersebut berlangsung dalam kegiatan Bina Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digagas Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Lembata pada 2–4 September 2026. Pada kegiatan perdana di SMP Negeri 4 Nubatukan itu, penguatan moderasi beragama menjadi tema utama.

Di tengah kehidupan remaja yang semakin terbuka terhadap berbagai informasi, pendidikan tentang keberagaman tidak lagi cukup disampaikan sebagai teori. Anak-anak perlu mengalami sendiri bagaimana perbedaan dapat menjadi sesuatu yang wajar, bahkan menyenangkan, ketika dibangun melalui perjumpaan.
Dan sekolah adalah tempat yang tepat untuk memulainya.

Belajar Toleransi dari Sebuah Perjumpaan

Bagi para siswa, kehadiran penyuluh dari tiga agama bukan sekadar kegiatan pembinaan tambahan. Ada pesan yang lebih dalam dari peristiwa tersebut.Mereka melihat bahwa orang-orang dengan latar belakang agama berbeda dapat duduk bersama, berbicara bersama, dan bekerja untuk tujuan yang sama.Di situlah pendidikan moderasi beragama menemukan bentuknya yang paling sederhana.


Toleransi bukan hanya definisi yang dihafalkan. Ia dapat dipelajari melalui pengalaman. Ketika seorang siswa melihat orang yang berbeda keyakinan mampu saling menghormati, bekerja sama, dan berbicara tanpa prasangka, sesungguhnya ia sedang mendapatkan pelajaran kehidupan yang mungkin jauh lebih kuat daripada sekadar penjelasan di buku.

Ketua IPARI Kabupaten Lembata, Apolonius Ado Atawuwur, S.Fil., M.Th., memandang pendidikan semacam itu penting untuk membangun karakter generasi muda.Menurutnya, moderasi beragama harus berangkat dari penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Perbedaan agama, suku, budaya maupun latar belakang sosial tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau menjauhkan seseorang dari yang lain.“Moderasi beragama harus berangkat dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati,” ujarnya.

Bagi Apolonius, sikap adil, terbuka dan saling menghargai merupakan wujud konkret dari penghormatan tersebut. Karena itu, keberagaman yang dimiliki Lembata seharusnya tidak dipandang sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai kekayaan sosial yang perlu dirawat bersama.

Lembata dan Modal Sosial Kerukunan

Lembata bukanlah ruang yang asing dengan keberagaman.Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat hidup berdampingan dengan latar belakang agama, budaya dan tradisi yang beragam. Relasi sosial yang telah terbentuk selama bertahun-tahun menjadi modal penting untuk menjaga suasana kehidupan yang harmonis.



Berbagai forum dan kelompok lintas agama juga telah ikut mengambil bagian dalam menjaga hubungan tersebut. Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pemuda Lintas Agama, misalnya, menjadi bagian dari jejaring sosial yang dapat memperkuat komunikasi antarkelompok.

Namun, kerukunan tidak pernah selesai hanya karena keadaan terlihat baik-baik saja.Justru ketika belum ada persoalan besar, pendidikan tentang toleransi perlu terus dilakukan. Pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu konflik muncul baru kemudian mencari jalan keluar.Gagasan itulah yang ingin dibangun IPARI Kabupaten Lembata melalui BRUS.



Apolonius mengatakan, sejauh ini belum ditemukan kasus intoleransi yang menonjol di Kabupaten Lembata. Kondisi tersebut menjadi modal positif yang harus dipertahankan..Menurutnya, modal sosial tersebut tidak boleh dibiarkan berjalan begitu saja.“Jangan sampai kita baru bergerak ketika persoalan sudah muncul. Pencegahan harus dilakukan sejak dini,” tegasnya.

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar respons terhadap konflik. Ia merupakan proses pendidikan yang harus ditanamkan jauh sebelum konflik terjadi.

Sekolah sebagai Tempat Menanam Benih

Ada alasan mengapa sekolah menjadi salah satu ruang penting dalam gerakan ini.Sekolah mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang dalam satu lingkungan. Mereka belajar bersama, bermain bersama, bekerja dalam kelompok, mengikuti kegiatan bersama, bahkan menghadapi persoalan bersama.



Dalam ruang seperti itu, perbedaan bukan sesuatu yang jauh. Perbedaan hadir di depan mata setiap hari. Karena itu, pendidikan tentang moderasi beragama menjadi lebih bermakna ketika ditempatkan dalam kehidupan nyata siswa.

BRUS tidak diarahkan hanya untuk memberikan pemahaman keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut ingin membentuk remaja yang memiliki kepedulian terhadap sesama, mampu menghargai perbedaan, memiliki rasa tanggung jawab, serta memahami bahwa hidup bersama membutuhkan sikap saling menghormati.



Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan tentang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seorang siswa. Pendidikan juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: mampukah ia hidup bersama orang lain yang berbeda dengannya?Pertanyaan tersebut semakin penting bagi generasi muda hari ini.

Dari Kegiatan Menjadi Gerakan

Perjumpaan di SMP Negeri 4 Nubatukan pada awal September itu tidak dirancang sebagai kegiatan sekali selesai.IPARI Kabupaten Lembata dan pihak sekolah berencana menuangkan kerja sama tersebut dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS). Melalui kesepakatan itu, program BRUS akan dilaksanakan secara rutin, dua kali dalam sebulan, setiap hari Sabtu.


Materi pembinaan pun akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan dunia remaja.Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan moderasi membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karakter tidak terbentuk hanya melalui satu kali pertemuan. Ia tumbuh melalui kebiasaan, pengalaman, dialog, dan keteladanan yang terus-menerus.

Jika satu kali pertemuan dapat membuka wawasan, maka perjumpaan yang berulang dapat membentuk kebiasaan.Dari kebiasaan itulah karakter tumbuh.IPARI Kabupaten Lembata juga tidak berhenti pada SMP Negeri 4 Nubatukan. Jaringan kerja sama dengan sejumlah SMA dan satuan pendidikan lainnya terus dibangun sebagai bagian dari upaya memperluas ruang pembinaan generasi muda.



Harapannya sederhana: semakin banyak remaja yang mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang keberagaman, semakin kuat pula fondasi kerukunan di masyarakat.

Pendidikan yang Melampaui Dinding Kelas

Pada akhirnya, pendidikan moderasi beragama bukan hanya tentang agama.Ia berbicara tentang cara manusia memperlakukan manusia lainnya.Ia berbicara tentang kesediaan mendengar sebelum menghakimi. Tentang kemampuan menerima perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan. Tentang keberanian bekerja sama dengan orang yang tidak selalu sama dengan kita.

Karena itu, ruang kelas tidak seharusnya hanya menghasilkan anak-anak yang pandai menjawab soal. Sekolah juga perlu melahirkan generasi yang tahu bagaimana menghargai orang lain.Di SMP Negeri 4 Nubatukan, pesan itu sedang dicoba ditanamkan melalui sebuah perjumpaan sederhana: penyuluh agama dari tiga tradisi keagamaan hadir bersama di hadapan para siswa
.


Mungkin tidak ada sesuatu yang spektakuler dari peristiwa tersebut.Namun, justru dari peristiwa-peristiwa sederhana semacam itulah kerukunan dapat tumbuh.Sebab masyarakat yang damai tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun dari kebiasaan kecil untuk saling menghormati, dari percakapan yang membuka ruang pengertian, dan dari keberanian untuk terus bertemu meskipun berbeda.



Dan kali ini, benih itu ditanam di sekolah—di tempat anak-anak Lembata sedang belajar mempersiapkan masa depan mereka.

0 Komentar