SMPN 4 Nubatukan: Dari Kebiasaan Kecil Menuju Sekolah Adiwiyata

SMPN 4 Nubatukan: Dari Kebiasaan Kecil Menuju Sekolah Adiwiyata


Sekolah yang bersih tidak selalu lahir dari petugas kebersihan yang bekerja dari pagi hingga soreh. Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: memungut sampah yang terlihat, menyapu halaman, merawat tanaman, dan membuang sampah pada tempat yang tepat.

Kebiasaan sederhana itulah yang kini sedang dibangun di SMP Negeri 4 Nubatukan. Sejak Ibu Katarina Oktaviana Tat, S.E. dipercaya memimpin sekolah tersebut, salah satu program yang menjadi perhatian adalah menjadikan SMPN 4 Nubatukan sebagai Sekolah Adiwiyata.



Bagi sekolah, Adiwiyata bukan sekadar tentang halaman yang bersih atau banyaknya tanaman di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, Adiwiyata menjadi bagian dari upaya membangun karakter peduli lingkungan dalam diri seluruh warga sekolah.

Bersih-Bersih Bukan Lagi Menunggu Perintah

Setiap hari, sebelum aktivitas pembelajaran berjalan sepenuhnya, ada pemandangan yang mulai menjadi kebiasaan di SMPN 4 Nubatukan.Guru bersama anak wali mengambil bagian dalam membersihkan lingkungan sekolah sesuai pembagian area yang telah ditentukan. Ada yang bertugas membersihkan halaman, merawat taman, menyapu sekitar ruang kelas, membersihkan toilet, membersihkan selokan, hingga memastikan lingkungan sekitar tetap tertata.



Dengan pembagian tugas tersebut, tidak ada satu sudut sekolah yang dianggap sebagai tanggung jawab orang lain.Di sinilah nilai Adiwiyata mulai terasa. Anak-anak tidak hanya diberi tahu bahwa kebersihan itu penting, tetapi dilibatkan langsung untuk merawat lingkungan tempat mereka belajar.Kegiatan membersihkan sekolah pun perlahan tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan tambahan. Ia menjadi rutinitas yang dilakukan bersama.


Yang menarik, kegiatan ini bukan hanya membuat halaman sekolah lebih bersih, tetapi juga membuat warga sekolah semakin merasa memiliki lingkungan sekolahnya. Sapu, halaman, taman, dan tempat sampah menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari. Dari kebiasaan sederhana itu, tumbuh kesadaran bahwa menjaga kebersihan bukan karena diperintah, melainkan karena merasa bahwa sekolah ini adalah tempat bersama yang harus dirawat bersama.

Dari Sampah, Anak-Anak Belajar Bertanggung Jawab

Di SMPN 4 Nubatukan, siswa tidak hanya diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Mereka juga mulai dibiasakan untuk mengenali dan memilah sampah sebelum membuangnya.Sederhananya, siswa diajak mengenal dua jenis sampah yang paling sering mereka temui sehari-hari, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan alami dan mudah terurai, seperti daun kering, sisa makanan, kulit buah, dan sisa sayuran.Sementara sampah anorganik adalah sampah yang lebih sulit terurai, seperti botol dan gelas plastik, bungkus makanan, kantong plastik, serta berbagai kemasan lainnya.



Mengapa harus dipilah?

Karena jika semua sampah dicampur, sampah menjadi lebih sulit untuk dikelola. Sebaliknya, jika sudah dipisahkan sejak awal, sampah akan lebih mudah ditangani. Sampah organik dapat dikelola menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik tertentu dapat dikumpulkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang.



Di sinilah siswa belajar bahwa sampah tidak semuanya sama.Ketika selesai minum, misalnya, botol plastik tidak langsung dibuang begitu saja. Siswa belajar mengenali bahwa botol tersebut termasuk sampah anorganik dan menempatkannya pada tempat yang sesuai.Begitu pula ketika menemukan daun kering di halaman atau sisa makanan setelah makan. Siswa mulai memahami bahwa sampah tersebut berbeda jenis dan perlu diperlakukan dengan cara yang berbeda pula.


Kelihatannya sederhana. Namun, dari kebiasaan kecil inilah kepedulian terhadap lingkungan mulai tumbuh.Anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Cukup dimulai dari diri sendiri, dari sampah yang ada di tangan, dan dari keputusan sederhana: sampah ini harus dibuang ke mana?



Dengan cara itulah, program Adiwiyata di SMPN 4 Nubatukan tidak hanya membuat lingkungan sekolah lebih bersih, tetapi juga mengajarkan siswa untuk lebih peduli, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Adiwiyata Adalah Gerakan Bersama

Program Adiwiyata di SMPN 4 Nubatukan tidak dibebankan hanya kepada kepala sekolah, guru, atau beberapa siswa tertentu.Ia menjadi gerakan bersama.Guru menjadi contoh. Anak wali mendampingi. Siswa terlibat. Seluruh warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, nyaman, dan menyenangkan.


Bagi Ibu Katarina Oktaviana Tat, S.E., sekolah yang peduli lingkungan tidak cukup hanya terlihat bersih ketika ada penilaian. Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan yang terus dilakukan setiap hari.Karena itu, semangat Adiwiyata di SMPN 4 Nubatukan bukan tentang siapa yang paling banyak membersihkan sekolah.Ini tentang bagaimana setiap orang belajar mengatakan:“Ini sekolah kita. Maka, ini juga tanggung jawab kita.”


Dari sapu yang bergerak setiap pagi, dari tangan siswa yang memilah sampah, dari guru yang ikut turun membersihkan halaman, dan dari kebiasaan menjaga lingkungan yang dilakukan berulang-ulang, SMPN 4 Nubatukan sedang menanam sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kebersihan.Dan dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah, cita-cita menjadi Sekolah Adiwiyata perlahan tumbuh—bukan hanya sebagai sebuah predikat, tetapi sebagai budaya yang hidup di lingkungan SMPN 4 Nubatukan.







0 Komentar